Latest Post

Masihkah Kita Tidak Mau Bersyukur?

Written By Unknown on Rabu, 30 Oktober 2013 | 17.18


Allah memberi isi yang ada di langit dan dibumi tidak lain untuk manusia, memberi tanah untuk ditanami pohon dan buahnya untuk manusia, memberi air untuk diminum dan memberikan udara secara cuma cuma. Bagaimana timbal balik kita? Sudahkah kita bersyukur? Kapan?
Setiap hari, jam, menit, hingga detik itulah waktu kita untuk bersyukur. Lantas, bagaimana dengan kenyataan yang ada? Kita diberi uang 1 juta saja masih ingin 5 juta, setelah datang 5 juta masih ingin yang lebih.  Kalau berbicara nafsu memang tidak akan ada selesainya.

Tahukah anda?
Didalam tubuh kita dari atas kepala sampai paling ujung jempol kaki terdapat 313 lebih sendi, yang seharusnya kita memberi nya makanan rohani secara rutin, sebagai rasa syukur kita. Caranya dengan melaksanakan shalat dhuha 2 rakaat. Dengan suplemen tersebut persedian merasakan bahwa orang yang memakainya masih punya syukur kepada yang menciptakanya, Allah SWT.
Itu semua juga kembali kepada diri kita sendiri, contoh satu fungsi saja, fungsi persendian jemari yang ada pada telapak tangan kita merasa ringan diajak untuk doa, mengadah setumpuk untuk meminta kepadaNya.
Padahal alam memberi kita pemandangan yang eskotik, hasil tanam yang bermacam-macam dan beraturanya waktu untuk bergantian. Namun, kita mengembalikanya dengan kotoran yang hina (kurang baik apa, apa ada buatan manusia yang bisa seperti ini?)lalu kotoran itu diproses lagi hingga kembali pada kita sesuatu yang baik lagi. Begitulah siklus biologis, dan bagaimana dengan siklus kerohanian kita? Masihkah ada cela didalam hati kita untuk bersyukur?
Jadi jika alam sudah tidak bersahabat dengan kita itu akibat dari ulah manusia itu sendiri.

M. Fajrul Falah
dari pengajian Tafsir Munir yang dikaji bersama Ust. K.H. Shiddiq Pon. Pes Al Hikmah 2 Benda

Readmore : http://www.eramuslim.com/oase-iman/masihkah-kita-tidak-mau-bersyukur.htm#.UnGhtVPm66w

From Jahiliyah to Khilafah


Move ON. Kata ini belakangan banyak diomongi di twitterland maupun dinding facebook. Entah latah atau emang ngerti, banyak remaja yang ikut menyuarakan Move-On. Kalo diartikan secara harfiyah sih terjemah bebasnya move berarti pindah dan on berarti nyala. Jadi move-on berarti pindah nyala. Nggak pindah berarti mati. Halah… kaya maen catur aja!

Setelah ngubek-ngubek perpustakaan google, ternyata istilah MOVE ON populer dipakai sebagai ucapan pendongrak semangat bagi mereka yang ditolak atau putus cinta. Tahu sendiri, orang yang baru putus cinta tanda-tanda kehidupannya mendadak meredup kaya orang mati suri gitu. Hidup segan mati ogah. Makanya muncullah istilah penyemangat “MOVE ON” yang menandakan hidup itu harus terus bergerak dan berlanjut. Tapi seiring waktu, istilah MOVE ON, dipakai secara umum untuk siapa aja yang mengalami kondisi down, mandeg, atau galau, trus memilih untuk bangkit  dan bergerak biar tanda-tanda kehidupanya nyala kembali. Yeah… MOVE ON! Ini baru bener pengertiannya. Catet!
Remaja Wajib Move On!

Sebagai remaja, wajib bagi kita untuk ngeh dengan kondisi lingkungan sekitar, khususnya dunia anak muda. Karena setiap hari kalo kita kebeneran nonton berita di tv atau baca di koran, potret buram remaja sering mengisi ruang headline media massa. Seperti kasus terbaru yang melibatkan seorang siswi SMP di Surabaya yang menjadi mucikari bagi teman-teman sekolahnya. Parah tenan!

Kita gak bisa tutup mata dengan potret buram remaja. Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Hanya menikmati berita? Cukup bersikap prihatin dengan mengusap dada? Atau malah nggak peduli karena tidak terjadi pada kita. Coba deh tanya pada diri sendiri. Apakah kita termasuk kelompok pemain, penonton, atau masyarakat luar dalam mensikapi kondisi lingkungan sekitar?

Pertama “pemain”, mereka yang sadar dan siap serta udah bergerak bersama untuk menyelesaikan masalah di atas. Bahkan mereka berjibaku, layaknya pemain bola professional, membina dan melatih dirinya dalam ilmu, sehingga nanti ketika benar-benar terjun ke masyarakat bisa ngasih solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat. Mereka inilah yang disebut pengemban dakwah.

Kedua “penonton” alias komentator, mereka ngeliat sih fakta kerusakan di tengah masyarakat, tapi mereka suka banget komentar terhadap perjuangan yang dilakukan oleh kelompok pertama. Ada yang komentarnya mendukung, tapi nggak sedikit yang jorokin, sok pinter, sok jago, padahal dia sendiri aksinya nggak pernah ada. Ada juga penonton disini yang layaknya supporter fanatik, kalo menang ikut senang, giliran kalah bikin ulah dan masalah.

Ketiga “masyarakat luar”, mereka nggak ngeliat atau bahkan cuek dengan kondisi disekitarnya. Persis kayak masyarakat diluar stadion yang nggak ambil pusing dengan apa yang terjadi di dalam stadion, saat pertandingan berlangsung. Entah mau rusuh kek, menang kek, kalah kek, bodo amat, emang gue pikirin. Nah, kira-kira begitu di kelompok yang ketiga ini, menyaksikan kerusakan masyarakat, cuek aja, “yang penting nggak nimpa gue dan keluarga gue”, gitu pikirnya.

Driser, kalo kita ada di kelompok ketiga maupun kedua, yang sekedar komentar apalagi cuek dengan kondisi kerusakan di sekitar kita, itu tandanya kita mesti Move-On. Naik peringkat jadi kelompok pemain yang menunjukkan sikap peduli kita. Move On berarti menjadikan diri kita bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Joss!

Jangan Asal Move On

Move on bukan asal bergerak atau yang penting pindah tempat. Kalo asal bergerak, kita mirip ayam yang baru aja disembelih ketika nunggu ajalnya datang. Klepek-klepek meregang nyawa, bergerak tak tentu arah kesana-kemari. Selain menguras energi, gak jelas juga apa yang dicari. Rugi. Makanya, biar Move on nggak menyimpang dan bener-bener setelah move kita On, mesti pake panduan. Panduan yang tokcer dan terbukti bikin On dunia akherat. Al-Quran.

Coba kita tengok dalam al-Qur’an maupun hadis kita bakal temukan bahwa al-Qur’an maupun hadis mengatur hidup manusia dari tidur sampe masalah dapur. Masalah ibadah sampe urusan pemerintah. Mulai dari kita bayi sampe urusan mati. Semua diatur Islam secara syamilan wa kamilan (lengkap dan menyeluruh). Allah swt berfirman:

    “ … Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agama-mu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (Al-Maa’idah: 3)

Ayat di atas menegaskan, Islam bukan hanya agama ritual, tapi Islam sebagai way of life alias jalan hidup seorang muslim. Sehingga Islam tidak mengenal istilah sekularisme, pemisahan aturan agama (Islam) untuk mengatur kehidupan. Nah, sebelum Move on, kita mesti kenal Islam lebih dalam. Biar bisa keluar dari masalah tanpa meninggalkan masalah baru.

Sialnya, sekarang banyak umat Islam yang memposisikan Islam di pojokan masjid nemenin sapu ijuk, bacaan quran keluar cuman untuk doain orang mati, hafalan surat hanya dibawa ketika pergi haji. Itulah yang terjadi jika umat menyamakan Islam dengan agama lain yang hanya ngatur masalah ibadah.

Maka, sudah saatnya umat Islam menyadari kesalahan ini dengan menjadikan Islam sebagai ideologi (way of life). Karena umat Islam dulu pernah berjaya, sejahtera, mulia ketika jadikan Islam sebagai ideologi. Baca sejarah Islam yang jujur pasti akan menemukan bahwa Islam pernah menaungi dunia selama berabab-abad. Sejarawan Barat. Seperti Carleton S pernah mengakui: “Peradaban Islam sanggup menciptakan sebuah negara adidaya kontinental yang terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain, dari iklim utara hingga tropik dan gurun dengan ratusan juta orang tinggal di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan asal suku”.

Nah, sekarang udah ketemu kan panduan Move On yang terbukti tokcer bin ampuh. Hanya syariah Islam yang bisa bikin Move On pribadi muslim, masyarat islam, dan negara. Bener-bener Move dari kondisi jahilyah menuju On di bawah naungan khilafah.

From Jahiliyah To Khilafah

Kehidupan Rasulullah saw di Mekkah dikelilingi oleh budaya jahiliyah (kebodohan). Sebuah kultur masyarakat yang menunjukkan rendahnya taraf berpikir masyarakat Mekkah. Dalam hal agama, mereka masih menyembah berhala. Patung buatan manusia yang dianggap punya kekuatan, padahal kenyataannya lemah tak berdaya. Mereka juga menganggap kelahiran bayi perempuan sebagai musibah, sehingga harus dimatikan. Padahal, tanpa kehadiran seorang wanita, manusia tak akan pernah ada di dunia. Kondisi ini yang hendak dirubah dengan hadirnya agama Islam  melalui perantaraan Muhammad saw.

Kalo kita jeli, ternyata keadaan di sekitar kita saat ini mirip dengan masa jahiliyyah. Cuman beda tempat dan waktu aja. Jaman jahiliyah, kepercayaan masyarakat kepada selain Allah masih kental. Hari gini gak jauh beda. Banyak remaja yang masih percaya dengan ramalan zodiak, kartu tarot atau penerawangan garis tangan. Begitu juga dengan politisi, selebritis, atau public figure yang manggut-manggut dengar celotehan paranormal terkait masa depan karir politik atau popularitasnya.

Masa jahiliyah, malu punya bayi perempuan. Hari gini, malu punya anak setelah enak-enakan tanpa pernikahan. Bukan cuman bayi perempuan yang dimatikan, bayi laki juga kebagian. Bahkan sebelum mereka dilahirkan. Aborsi!. Jaman jahiliyah, perempuan hanya dianggap dan dipaksa jadi pemuas hasrat seks kaum adam. Hari gini, tanpa perlu dipaksa, banyak remaji yang memantaskan dirinya sebagai objek seksual. Malah ngerasa bangga kalo berbusana minim, mengumbar aurat, dan memancing syahwat.

Rasulullah tak berdiam diri dengan kondisi masyarakat Mekkah yang musyrik. Setelah 13 tahun berdakwah di kota kelahirannya, ternyata hasilnya tak memuaskan. Masyarakat Mekkah masih banyak menyembah berhala dan memusuhi Rasul dan para Shahabat. Akhirnya, dengan bimbingan Allah, Rasul Move On ke Madinah untuk menyiapkan masyarakat yang rela menerima Islam secara kaffah. Walhasil, peristiwa hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah berakhir dengan berdirinya negara Islam di Madinah yang menerapkan aturan islam secara menyeluruh untuk mengatur urusan rakyatnya.

Move on Rasulullah ke madinah menjadi pijakan kebangkitan Islam dari masyarakat jahiliyah menuju kehidupan penuh berkah. Inilah yang patut kita teladani dalam aktifitas dakwah. Sebagaimana diperintahkan Allah:

    “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..” (QS al-Ahzab [33]: 21)

Rasul menunjukkan, satu-satunya cara yang baik dan benar agar bisa move on dari kondisi jahiliyah sekarang menuju kehidupan penuh berkah dalam naungan khilafah hanya dengan dakwah yang mendongrak cara berpikit umat. Bukan aktifitas sosial atau ngumpul tasyakuran yang bisa meninabobokan umat. Tapi, aktifitas dakwah yang menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Cuman ngomong tapi nggak asal bunyi. Ngomongin cacatnya sistem demokrasi, kebobrokan ekonomi kapitalis, brengseknya gaya hidup liberal disertai ajakan pada umat untuk kembali pada hukum Islam sebagai solusi tokcer bin jitu.

Untuk memuluskan jalan Move On from Jahiliyah to Khilafah, mau nggak mau seluruh umat Islam harus ikut ambil bagian. Termasuk kita-kita, remaja muslim yang cakep bin unyu-unyu. Bukan karena ajakan kawan atau ikut keramaian, tapi murni lahir dari kesadaran hamba yang beriman. Curahkan energi untuk mengkaji islam lebih dalam, berdiskusi dengan masyarakat awam, dan menyampaikan koreksi pada para penguasa zalim. Nggak usah ribet dengan omongan orang-orang dengki yang cuman bisa komentarin dakwah sementara dirinya diam seribu basa. Nggak perlu panik juga dengan hambatan dan masalah yang menghadang, Allah pasti bakal tolong kita dan tunjukkan jalan keluar. Firman Allah:

    “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7)

So, nggak pake lama bin tarsok. Ayo kita ikut ambil bagian jadi pejuang Islam yang turut mengawal Move On umat from Jahiliyah to Khilafah. Kalo kita istiqomah di jalan dakwah, bukan cuman umat yang Move On. Kita juga ikut kebawa. Karena dakwah bikin kita dekat dengan Allah. Sampai jumpa di garda terdepan pejuang syariah dan khilafah. Allahu akbar! [@LukyRouf]. [D'Rise-#032]
[D'Rise-#032]
[D'Rise-#032]

Syukron Kastir : http://drise-online.com/move-on-from-jahiliyah-to-khilafah.htm#sthash.OMeOpKWq.dpuf

Tertundanya Kematian

 

Suatu ketika, Nabi Daud a.s. duduk di suatu tempat. Di sampingnya, ada seorang pemuda saleh yang duduk dengan tenang tanpa banyak bicara. Tiba-tiba, datang Malaikat Maut yang mengucapkan salam kepada Nabi Daud. Anehnya, Malaikat Maut terus memandang pemuda itu dengan serius.

Nabi Daud berkata kepadanya, "Mengapa engkau memandangi dia?"

Malaikat Maut menjawab, "Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya tujuh hari lagi di tempat ini!"

Nabi Daud pun merasa iba dan kasihan kepada pemuda itu. Beliau pun berkata kepadanya, "Wahai Anak Muda, apakah engkau mempunyai istri?"

"Tidak, saya belum pernah menikah," jawabnya.

"Datanglah engkau kepada Fulan - seseorang yang sangat dihormati di kalangan Bani Israil - dan katakan kepadanya, 'Daud menyuruhmu untuk mengawinkan anakmu denganku.' Lalu, kau bawa perempuan itu malam ini juga. Bawalah bekal yang engkau perlukan dan tinggallah bersamanya. Setelah tujuh hari, temuilah aku di tempat ini."

Pemuda itu pergi dan melakukan apa yang dinasihatkan Nabi Daud kepadanya. Dia pun dinikahkan oleh orang tua si Gadis. Dia tinggal bersama istrinya selama tujuh hari. Pada hari kedelapan pernikahannya, dia menepati janjinya untukbertemu dengan Daud.

"Wahai Pemuda, bagaimana engkau melihat peristiwa itu?"

"Seumur hidupku, aku belum pernah merasakan kenikmatan dan kebahagiaan seperti yang kualami beberapa hari ini," jawabnya.

Kemudian, Nabi Daud memerintahkan pemuda itu untuk duduk di sampingnya guna menunggu kedatangan malaikat yang hendak menjemput kematiannya. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Nabi Daud berkata, "Pulanglah kepada keluargamu dan kembalilah ke sini untuk menemuiku di tempat ini delapan hari setelah ini."

Pemuda itu pun pergi meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Pada hari kedelapan, dia menemui Nabi Daud di tempat tersebut dan duduk di sampingnya. Kemudian, kembali lagi pada minggu berikutnya, dan begitu seterusnya. Setelah sekian lama, datanglah Malaikat Maut kepada Nabi Daud.

"Bukankah engkau pernah mengatakan kepadaku bahwa engkau akan mencabut nyawa anak pemuda ini dalam waktu tujuh hari ke depan?"

Malaikat itu menjawab, "Ya."

Nabi Daud berkata lagi, "Telah berlalu delapan hari, delapan hari lagi, delapan hari lagi, dan engkau belum juga mencabut nyawanya."

"Wahai Daud, sesungguhnya Allah swt merasa iba kepadanya lalu dia menunda ajalnya sampai tiga puluh tahun yang akan datang."

Pemuda dalam kisah ini adalah seseorang yang taat beribadah, ahli munajat, gemar berbuat kebaikan, dan sangat penyayang kepada keluarganya. Boleh jadi, karena amal saleh dan doa-doanyalah, Allah Swt. berkenan menunda kematian sang Pemuda hingga tiga puluh tahun lamanya.

Sungguh, suatu kaum akan ditimpa azab oleh Allah sebagai suatu ketetapan yang pasti. Namun, kemudian seorang anak di antara mereka membaca, "Alhamdulillahi Rabbil Alamin." Ucapan itu didengar Allah dan Dia mengangkat azab-Nya dari mereka karena bacaan itu selama 40 tahun. (Fakhruddin Ar Razi)

Syukron Katsir : http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2011/07/tertundanya-kematian.html#more
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pena Dakwah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger